
Gampong Teulaga Tujuh, salah satu kawasan terluar yang berada di Pulau Pusong, Kecamatan Langsa Barat, tampak lebih hidup dari biasanya pada tahun 2025. Desa pesisir yang jauh dari pusat kota ini menjadi lokasi utama pelaksanaan program Pemberdayaan Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (PM-BEM 2025) yang digagas oleh BEM STIKes Bustanul Ulum Langsa bekerja sama dengan KEMDIKTISAINTEK Berdampak. Kegiatan ini menghadirkan kolaborasi nyata antara mahasiswa, dosen, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat dalam upaya meningkatkan kemandirian kesehatan melalui pendekatan promotif dan preventif.
Program ini mengusung tema besar “Peningkatan Kemandirian Kesehatan Masyarakat Melalui Penguatan Aspek Promotif dan Preventif Menggunakan Model ALARM-DESA (Alert and Rescue Management).” Tema tersebut dipilih berdasarkan kondisi geografis desa yang berada di wilayah terluar dan memiliki tantangan tersendiri dalam akses terhadap layanan kesehatan. Model ALARM-DESA diterapkan sebagai pendekatan sistematis untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap masalah kesehatan serta memperkuat kemampuan desa dalam merespons dini berbagai persoalan kesehatan.
Pelaksanaan program ini dipimpin oleh Ns. Muhammad Khairurrozi, S.Kep., M.Kes sebagai Ketua Pelaksana, bersama anggota pelaksana Reva Afdila, S.ST., M.K.M, Ayunin Syahida, S.ST., M.K.M, serta seluruh jajaran BEM STIKes Bustanul Ulum Langsa. Keterlibatan para dosen dan mahasiswa tidak hanya sebatas tenaga pengajar atau fasilitator, tetapi juga sebagai penggerak utama kegiatan lapangan yang berlangsung langsung di tengah masyarakat.

Dalam pelaksanaan kegiatan, tim BEM STIKes Bustanul Ulum Langsa berkolaborasi dengan empat mitra strategis yang menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan program. Kelompok Kader Kesehatan Kasih Bunda yang dipimpin oleh Maulina menjadi garda depan dalam mempraktikkan materi kesehatan di tingkat dusun. Kelompok Pengrajin Produksi Ikan Asin Jasa Bersama di bawah pimpinan Nurul Akmal turut terlibat dalam kegiatan penguatan ekonomi produktif berbasis kesehatan lingkungan. Sementara itu, Pemerintah Gampong Teulaga Tujuh melalui Pj. Geuchik Adi Sudirman AS, S.Pd memberikan dukungan penuh dalam segala aspek penyelenggaraan kegiatan. Tak kalah penting, STIKes Bustanul Ulum Langsa yang diketuai oleh Bd. Nurhidayati, S.Sos., S.Keb., M.P.H, menjadi pendukung utama dalam pendampingan akademik dan penjaminan mutu kegiatan.
Seluruh rangkaian PM-BEM 2025 disusun untuk mendukung pencapaian Asta Cita nasional, khususnya dalam aspek penguatan sumber daya manusia (SDM), pendidikan, sains, teknologi, kesehatan, pemberdayaan perempuan, serta pemuda. Melalui pendekatan promotif dan preventif, kegiatan ini menekankan pentingnya membangun kesadaran kesehatan dari tingkat keluarga hingga komunitas desa. Edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pengenalan risiko kesehatan lingkungan, hingga pelatihan dasar tanggap darurat kesehatan menjadi bagian dari materi inti yang disampaikan.
Selain itu, kegiatan ini juga secara langsung mendukung pencapaian SDGs Goal 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Indikator cakupan pelayanan kesehatan esensial ditingkatkan melalui edukasi tentang gaya hidup sehat, pencegahan penyakit, sanitasi, serta manajemen kesehatan keluarga. Masyarakat didorong untuk memahami pentingnya kebiasaan sehat yang dapat dilakukan sehari-hari, termasuk menjaga kebersihan lingkungan, mengelola makanan dengan baik, dan meningkatkan aktivitas fisik.

Pada indikator lainnya, yaitu cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), kegiatan ini menekankan pentingnya kepesertaan seluruh warga Gampong Teulaga Tujuh agar dapat mengakses layanan kesehatan formal. Melalui sesi sosialisasi, warga diberikan pemahaman lengkap mengenai manfaat JKN, cara memeriksa status kepesertaan, serta mekanisme pemanfaatannya. Hal ini diharapkan dapat mengurangi kendala masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan, terutama pada kondisi darurat atau penyakit kronis.
Di tengah rangkaian kegiatan, terlihat antusiasme masyarakat yang begitu besar. Baik kader kesehatan, kelompok perempuan, pemuda desa, hingga para pengrajin ikan asin terlibat aktif dalam diskusi, pelatihan, dan simulasi ALARM-DESA. “Harapan kami, masyarakat tidak hanya memahami materi kesehatan, tetapi mampu menerapkannya secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Ns. Muhammad Khairurrozi, ketua pelaksana program, di sela-sela pelatihan.
Kegiatan PM-BEM 2025 bukan sekadar serangkaian pelatihan, tetapi upaya serius dalam membangun fondasi masyarakat yang mandiri, sehat, dan siap menghadapi tantangan kesehatan di masa mendatang. Dengan dukungan mitra dan masyarakat lokal, program ini menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas dapat menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan.
Melalui program ini, STIKes Bustanul Ulum Langsa menegaskan komitmennya untuk terus tampil sebagai institusi pendidikan kesehatan yang tidak hanya membina akademisi, tetapi juga memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat, khususnya di daerah terpencil dan pesisir. PM-BEM 2025 menjadi bukti bahwa edukasi, kepedulian, dan kerja sama lintas sektor mampu menghadirkan dampak signifikan bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat desa terluar.
